JAKARTA – Presiden Donald Trump baru-baru ini menandatangani perintah eksekutif yang ambisius terkait regulasi Artificial Intelligence (AI). Inti dari perintah ini adalah janji untuk menciptakan “Perintah Trump AI Satu Aturan“—sebuah kerangka kerja regulasi nasional yang tunggal. Tujuannya: menyederhanakan kepatuhan dan memastikan bahwa perusahaan-perusahaan AS, terutama startup AI, dapat berinovasi tanpa terbebani oleh “kumpulan 50 sistem regulasi” yang berbeda-beda di setiap negara bagian.
Langkah ini tentu disambut baik oleh banyak pihak di Silicon Valley yang telah lama mengeluhkan tentang “mimpi buruk kepatuhan” yang diakibatkan oleh undang-undang AI progresif di negara bagian seperti California, Colorado, dan New York. Namun, para ahli hukum dan pengamat politik memperingatkan bahwa alih-alih memberikan kejelasan, perintah eksekutif ini berisiko menciptakan limbo hukum yang justru dapat melumpuhkan startup AI. Dengan pemerintahan federal yang secara agresif menargetkan undang-undang AI tingkat negara bagian, perusahaan-perusahaan rintisan ini mungkin akan dipaksa untuk menavigasi persyaratan yang saling bertentangan selama bertahun-tahun sambil menunggu pengadilan dan Kongres AS menentukan masa depan tata kelola AI.
⚖️ Mekanisme Preemption: Senjata One Rulebook
Perintah eksekutif ini adalah upaya paling keras dari pemerintahan Trump untuk menegaskan supremasi federal atas regulasi AI, dengan mendesak beberapa lembaga federal untuk menantang regulasi negara bagian yang dianggap “memberatkan” atau “berlebihan.”
1. Gugatan Hukum dan Ancaman Pendanaan
Salah satu ketentuan kunci dalam perintah ini adalah instruksi kepada Jaksa Agung untuk membentuk Satuan Tugas Litigasi AI (AI Litigation Task Force) dalam waktu 30 hari. Tujuan utama gugus tugas ini adalah menggugat undang-undang AI negara bagian atas dasar hukum interstate commerce (perdagangan antarnegara bagian) yang diatur oleh Konstitusi AS.
-
Penahanan Dana Federal: Perintah tersebut juga mengancam sanksi pendanaan bagi negara bagian yang tidak patuh. Secara spesifik, negara bagian yang memiliki undang-undang AI yang “memberatkan” dapat terancam kehilangan dukungan dari program penting seperti Broadband Equity Access and Deployment (BEAD) Program, yang bertujuan untuk memperluas akses internet berkecepatan tinggi.
2. FTC dan FCC dalam Misi Standarisasi
Departemen Perdagangan diberi waktu 90 hari untuk menyusun daftar undang-undang negara bagian yang “bertentangan dengan kebijakan Gedung Putih,” sementara Komisi Perdagangan Federal (FTC) dan Komisi Komunikasi Federal (FCC) diminta untuk mengeksplorasi standar federal yang dapat mengungguli (preempt) aturan negara bagian. Langkah-langkah ini menunjukkan upaya menyeluruh untuk membatasi ruang gerak regulator negara bagian.
🛑 Dampak Ganda pada Startup AI
Paradoks terbesar dari “Perintah Trump AI Satu Aturan” adalah bahwa ia berjanji membantu startup tetapi justru menempatkan mereka dalam situasi yang paling rentan.
1. Biaya Kepatuhan yang Meningkat di Tengah Konflik
Selama undang-undang negara bagian yang ada (seperti undang-undang Colorado yang melarang diskriminasi algoritmik) masih berlaku dan belum secara definitif dibatalkan oleh pengadilan, startup harus patuh pada undang-undang negara bagian tersebut.
-
Limbo Hukum: Namun, pada saat yang sama, mereka harus bersiap untuk beralih ke kerangka federal yang diusulkan dan menghadapi potensi gugatan dari pemerintah federal. Hart Brown, seorang ahli regulasi AI, mencatat bahwa startup seringkali tidak memiliki program tata kelola regulasi yang kuat karena mereka memprioritaskan inovasi. Kekacauan regulasi ini dapat:
-
Meningkatkan Siklus Penjualan: Pelanggan yang sensitif terhadap risiko (misalnya perusahaan besar) akan ragu untuk membeli dari startup yang menghadapi ketidakjelasan hukum.
-
Menaikkan Biaya Hukum: Startup harus membayar lebih mahal untuk tim hukum guna menavigasi rezim ganda yang saling bertentangan.
-
2. Keunggulan Kompetitif untuk Raksasa Teknologi
Sementara startup bergumul dengan ketidakpastian hukum, raksasa teknologi yang memiliki sumber daya yang lebih besar (well-resourced tech giants) justru akan diuntungkan. Mereka mampu membayar tim hukum untuk “menunggu” ketidakpastian ini mereda.
-
Memperkuat Monopoli: Alih-alih mempromosikan persaingan, Perintah Trump AI Satu Aturan berpotensi memperkuat dominasi perusahaan-perusahaan mapan yang memiliki lobi kuat dan mampu membentuk standar federal yang menguntungkan mereka.
🏛️ Masa Depan Regulasi AI: Kongres Kuncinya
Para ahli hukum sepakat bahwa perintah eksekutif, meskipun agresif, bukanlah cara yang tepat untuk membatalkan undang-undang yang telah disahkan oleh negara bagian secara sah.
1. Memerlukan Undang-Undang Kongres
Kekuasaan terkuat untuk menegaskan preemption federal secara total hanya dapat dilakukan melalui undang-undang komprehensif yang disahkan oleh Kongres AS.
-
Perjuangan Politik: Kongres selama ini gagal mengesahkan undang-undang AI karena perpecahan politik yang mendalam antara melindungi hak-hak sipil dan mendorong inovasi. Langkah Trump ini dapat menjadi katalis yang memaksa Kongres untuk bertindak, atau justru semakin memperumit proses legislasi.
2. Pertempuran “Perdagangan Antarnegara Bagian”
Pertarungan hukum akan berpusat pada apakah AI benar-benar merupakan masalah interstate commerce yang harus diatur secara eksklusif oleh pemerintah federal. Argumen konstitusional ini bisa memakan waktu 1–3 tahun untuk diselesaikan di pengadilan.
Kesimpulannya, meskipun janji “Perintah Trump AI Satu Aturan” terdengar menarik bagi industri, realitasnya lebih kacau. Alih-alih memberikan kerangka kerja yang jelas, langkah eksekutif ini berpotensi membuka kotak Pandora konflik yurisdiksi, meninggalkan para founder startup AI dalam limbo hukum yang berbahaya di saat mereka seharusnya fokus pada inovasi.
Baca juga:
- Google Translate Headphone Waktu Nyata Hadir untuk Semua Headphone
- Google OpenAI Rilis AI Serentak di Hari yang Sama
- Harness Otomatisasi AI After-Code dengan Pendanaan $240 Juta untuk Menutup Celah Kritis
Informasi ini dipersembahkan oleh naga empire

